Home » , » Inilah Kondisi Siswa di Sumba yang Membuat Saya Tercengang

Inilah Kondisi Siswa di Sumba yang Membuat Saya Tercengang

Ada perbedaan yang mendasar antara kehidupan siswa di Jawa –yang selama ini saya saksikan- dengan kehidupan siswa di Sumba Timur, artikel ini bukan dalam rangka membanding-bandingkan, tapi ini sebagai gambaran tentang kehidupan keseharian siswa-siswa di Sumba yang benar-benar membuat saya tercengang.


Sebagai pendahuluan, mungkin saya ceritakan sedikit mengenai kendala-kendala pada kegiatan pembelajaran  di kelas yang kemudian saya mencari tahu kenapa kendala tersebut bisa terjadi, dan ternyata itu berhubungan erat dengan kehidupan atau budaya di Sumba Timur ini. Namun ini hanya sekolah yang saya tempati dan mungkin di sekolah lain tidak seperti ini kondisinya. Kendala-kendala dalam pembelajaran tersebut diantaranya:

Ketika saya mengajar di kelas, hampir rata-rata siswa tidak mengumpulkan tugas ketika ada tugas, kemudian perhatian siswa kurang ketika guru menerangkan mereka memperhatikan tapi ketika ditanya tidak nyambung atau tidak konsentrasi dalam memperhatikan apa yang sedang guru jelaskan. Belum lagi ketika kedisiplinan mereka kurang, jam 7.00 hanya segelintir siswa saja yang datang, dan juga ketika jam 11 atau jam 12 kebanyakan siswa sudah pada kabur pulang, bahkan sering ketika saya mendapatkan jam siang, tidak ada siswa di kelas. kondisi miris seperti ini membuat saya heran ada apa sebenarnya.


Setelah saya telusuri dengan mencari tahu, didapatkan data-data (kayak intelejen saja atau detektif canon, haha) sebagai berikut:
  • Ternyata siswa di Sumba kebanyakan tinggal bersama wali mereka dan bukan orangtua, terutama mereka yang rumahnya jauh dari sekolah. Mereka tinggal dengan wali yang statusnya adalah saudara/kerabat dari orangtua, entah itu saudara jauh atau dekat. Terus masalahnya apa? Teruskan baca dulu dong...
  • Mereka yang tinggal bersama wali, mereka tidak bayar uang kos, uang makan, dll.. alias gratis tis tis.. enak kan? Enak.. tapi bentar dulu..
  • Karena mereka tinggal dengan wali secara gratis maka timbal baliknya adalah, apa-apa yang menjadi pekerjaan wali dirumah itu dilakukan oleh si anak atau siswa tersebut. Misalnya mencuci, memasak, membersihkan pekarangan, membersihkan rumah, bahkan membangun kamar baru, dan pekerjaan lainnya.  dan ini gambaran keseharian siswa: mereka bangun tidur lalu mengerjakan seabrek pekerjaan rumah tangga, lalu berangkat sekolah (makanya terlambat) ketika berangkat sekolah tersebut kondisinya mereka belum sarapan. Di Sumba, kebanyakan –tidak semua- orang sarapan, tidak seperti di Jawa yang sudah sejak pagi jam 5 bahkan jam 4 ada yang masak untuk anak-anaknya yang mau sekolah. Di sini tidak seperti itu, karena wali atau bahkan masyaratnya makan pagi diatas pukul 8 (kecuali mungkin yang bekerja kantoran, guru dll) yang tidak sarapan paling-paling hanya minum kopi.
  • Berangkat sekolah dalam kondisi lapar, dan tidak diberi uang jajan oleh wali mereka, sehingga mereka terpaksa di sekolah dalam kondisi lapar, bagaimana mungkin siswa akan konsentrasi menerika pelajaran? Bagaimana mungkin siswa akan bertahan di kelas sampai jam 2 siang? Makanya siswa pingin cepat pulang biar segera makan dirumah walinya tersebut.
  • Ketika pulang sekolah mereka kembali bekerja, membersihkan ladang, dan lain-lain. Lalu istirahat dan sebagainya bahkan ada yang pekerjaannya sampai malam, jadi kapan waktu belajar untuk mereka? Tidak ada...
  • Wali siswa kurang memperhatikan masalah pendidikan mereka –tidak semua- kesadaran orangtua atau wali dalam urusan pendidikan memang dirasa kurang, padahal waktu saya sekolah dulu, habis maghrib harus belajar, ditanyain apakah ada tugas, jad orangtua rata-rata di jawa sangat memperhatikan urusan pendidikan anaknya. Bahkan rela menjual sawah atau ladang demi pendidkan anaknya..
  • Wali siswa kurang memperhatikan kebutuhan siswa dan memenuhinya –tidak semua- ini juga yang menyebabkan siswa saya di kelas banyak yang tidak memiliki penggaris, pulpen, bahkan buku satu untuk beberapa pelajaran, ini SMK broo.. kalau SD ya masih bisa dimaklumi lah.. misalnya siswa saya suruh membeli penggaris demi untuk keberhasilan mata pelajaran gambar teknik, nyatanya hanya beberapa saja yang beli, yang lain tidak punya dengan alasan tidak punya uang, dan lain-lain.

Jadi kurang lebih seperti itu kondisi siswa di Sumba Timur, sekali lagi, ini hanyalah gambaran di tempat saya mengajar, tapi menurut cerita dari teman sarjana mengajar yang lain juga rata-rata seperti itu, kecuali sekolah yang maju yang isinya anak-anak orang kaya. Yah bagaimapun juga masalah ini adalah masalah kita bersama.. Dunia pendidikan... Lalu bagaimana solusinya menurut sobat? atau bagimana dengan kondisi dilingkungan sobat? sharing-sharing dong di kolom komentar :) ditunggu yaa.. 

0 komentar:

Posting Komentar